Allah menurunkan Al-Qur'an agar menjadi petunjuk, pedoman, dan pelajaran utama bagi seluruh umat manusia untuk membedakan kebenaran dan kesesatan, mencapai kebahagiaan dunia akhirat, menyempurnakan ajaran sebelumnya, serta menjadi sumber ilmu dan ketenangan batin.
Tafakur mengandung arti memikirkan, merenungkan, mengingat Allah melalui segala ciptaanNya yang tersebar di langit dan bumi. Bahkan yang ada dalam diri manusia sendiri, seperti yang dikutip dari buku Spiritual Management karya Sanerya Hendrawan.
Quraish Shihab dalam buku Tadabbur Quran Tafakur Alam berpendapat bahwa tafakur dibentuk dari kata fikr berasal dari fakr dalam bentuk faraka yang berarti mengorek sehingga apa yang dikorek muncul, menumbuk hingga hancur, menyikat (pakaian) hingga kotorannya hilang.
Tafakur adalah mengerahkan segala kemampuan hati untuk menemukan hikmah dalam setiap petunjuk. Tafakur mengenai ayat dalam al-Qur’an memiliki beberapa kaitan dengan diantaranya Tafakur dalam kalimah amstal, tafakur dalam memahami sebuah kisah, dan tafakur dalam kalimah akibat (mengenai apa penyebab sehingga suatu kejadian/musibah itu terjadi).
Salah satu yang bisa kita ambil, dan kemudian diambil pelajaran dan hikmah dari ayat tersebut adalah dalam Surat Ali-Imran Ayat 37
فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُوْلٍ حَسَنٍ وَّاَنْۢبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًاۖ
“Dia (Allah) menerimanya (Maryam) dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik,” Ayat ini berkaitan dengan kisah Siti Hana dalam membesarkan, mendidik putrinya yaitu Siti Maryam. Dengan usahanya itu sehingga tumbuhlah Siti Maryam yang memiliki kelebihan dibanding dengan sosok istir/ibu yang lainnya. Tetapi dalam proses pertumbuhan bayi ini menggunakan kalimat yang biasa untuk tumbuhan/tanaman.
Kata yang digunakan untuk perkembangan dan pertumbuhan bayi Maryam adalah Anbataha nabaatan. Nabata merupakan bentuk fi’il madhi.(نَبَتَ) nabata artinya menanam atau menumbuhkan di bahasa Indonesia, Tulisan arab nabata adalah نَبَتَ.
Kata kerja (fi'il) "anbata" (أَنۢبَتَ) dan bentuk kata turunannya dari akar kata nun-ba-ta (ن ب ت) disebutkan dalam beberapa ayat Al-Qur'an, umumnya dalam konteks penciptaan dan pertumbuhan, terutama yang berkaitan dengan tumbuh-tumbuhan. Kata ini secara umum memiliki makna "menumbuhkan" atau "menyebabkan sesuatu tumbuh" dari bumi, baik secara harfiah (tanaman) maupun kiasan (manusia atau pertumbuhan spiritual).
Contoh surat al-Baqarah ayat 61 : "...maka mintalah kepada Tuhanmu agar Dia menumbuhkan untuk kami sebagian dari apa yang ditumbuhkan bumi..." (Q.S. Al-Baqarah [2] : 61). (
Ayat ini merujuk pada permintaan Bani Israil akan hasil bumi seperti sayuran, mentimun, dan bawang putih.
Ayat-ayat lain yang menggunakan kata ini atau turunannya sering kali merujuk pada kemampuan Allah SWT dalam menumbuhkan berbagai jenis tanaman, biji-bijian, dan kebun-kebun dengan air hujan, misalnya dalam Q.S. An-Naba [78]: 15, Q.S. Al-An'am [6]: 99, Q.S. Ar-Ra'd [13]: 4, dan banyak lagi.
Sehingga menjadi ibrah bagi kita adalah dalam mendidik, menjaga mengarahkan putri putri kita selayaknya seperti seorang petani menggarap lahan pertaniannya. Dimulai dari perencanaan tanaman apa yang akan ditanam, tehnik pengelolaan tanah, benih yang unggul, obat/pupuk yang tepat, waktu penyiraman, sampailah kepada masa panen, tumbuhan tersebut bisa diambil untuk dijual maupun untuk dikonsumsi.
Artinya begitu juga dalam mendidik anak kita, sejatinya bahwa mendidik anak itu bukan diwaktu anak sudah bisa bicara, sudah bisa berjalan semata. Melainkan mendidik anak itu dimulai dari perencanaan orang tua sebelum memiliki anak, memberikan nama yang terbaik, menempatkan di tempat yang baik, dititipkan kepada orang yang baik, diberikan konsumsi makanan yang baik sehingga terwujudlah sosok anak yang terbaik pula. Sebagaimana proses, usaha Siti Hana dimulai dari berdo’a sepenuh hati untuk mendapatkan bayi, dikuatkan dengan tekad dan cita-cita mulia bahwa anaknya menjadi Muharoron, diberikan nama terbaik, ditempatkan di tempat yang terbaik yaitu mihrab, diasuh oleh orang pilihan yaitu nabi Zakaria, diberikan asupan makanan yang halal “hadza min ‘Indillah” sehingga bertumbuhlah sosok Siti Maryam, Allah menyebutnya dengan “Wa anbatahaa nabaatan Hasanaa”.
Kata kuncinya ikhtiar mendidik anak ibarat seperti memelihara tanaman yang diurus dengan apik dan teliti. Pada Ayat lain Allah membuat perumpamaan layaknya tumbuhan yang lain yaitu seperti Pohon, yang tercantum dalam surat Ibrahim ayat 24. Yang berbunyi
اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِۙ ٢٤
“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimah ṭayyibah? (Perumpamaannya) seperti pohon yang baik, akarnya kuat, cabangnya (menjulang) ke langit,”
Allah membuat permisalan dengan Pohon Yang Besar, Akarnya menghunjam kedalam tanah, Batang daun dan buahnya menjulang Kelangit dengan rindang. Ada Mufassirin menjelaskan bahwa Akar itu adalah Iman/Tauhid sedangkan Batang yang menjulang dengan daun dan buah itu adalah amal Sholeh.
Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang firmanNya: (perumpamaan kalimat yang baik) persaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah (seperti pohon yang baik) yaitu orang mukmin (akarnya teguh) dia berkata, 'Tidak ada Tuhan selain Allah yang ada dalam hati orang mukmin (dan cabangnya (menjulang) ke langit) dia berkata, amal orang mukmin dinaikkan ke langit.
Pelajaran berharga bagi kita, ketika seseorang memiliki Iman yang Kuat maka otomatis dia akan memiliki amal soleh yang rindang, amal sholeh yang begitu banyak, dengan amal sholeh tersebut Allah mengangkat dirinya kedalam kemuliaan. Ucapan yang baik dan amal sholeh akan diangkat Allah.
Begitu pun apabila orang tua mendidik anaknya dengan penuh ketekunan, kesabaran layaknya para petani dalam menanam suatu tanaman, seorang anak yang dibimbing dengan kesabaran, ketekunan, keteguhan Iman yang besar sehingga menghasilkan akar iman dalam diri anak yang menghunjam dalam Hatinya, sehingga berdampak pada ucapan yang santun dan amal sholeh yang banyak, dengan amal sholeh tersebut mengangkat dirinya menjadi pribadi yang Mulia. Kokoh dalam akidah, Sempurna dalam ibadah dan Indah dalam bermumalah.
Sebaliknya Bagi orang tua yang mendidik anak tanpa perencanaan dan pemeliharaan yang tekun dan sabar, diibaratkan
كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ ٱجْتُثَّتْ مِن فَوْقِ ٱلْأَرْضِ مَا لَهَا مِن قَرَارٍ
Akarnya tidak menghunjam kedalam tanah, tidak memiliki dasar yang kuat untuk menjadikan batang yang kuat, daun dan buah yang tidak menjulang ke langit. Anak yang tidak tumbuh dengan penuh ketekunan, tidak dibangun akar iman yang kokoh, maka tidak mustahil anak tersebut tidak akan menhasilkan buah amal sholeh yang sempurna. Ma laa min Qorirrin.
Al Fakir Abah yudi
#DakwahDigital #LDKPPMuhammadiyah #Muhammadiyah #DakwahKomunitas #DaiDigitalMuhammadiyah




